Selamat Datang di blog Williya Meta "Bidadari Bulan Hijau"
.

0 Riwayat Singkat Penulis

Sabtu, 20 Agustus 2011 Label:


Riwayat Singkat Penulis
Williya Meta adalah mahasiswi IAIN Imam Bonjol Padang Fakultas Syari’ah Jurusan Ekonomi Islam semester VII. Dilahirkan di Jorong Andaleh, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Sumatera Barat 27 November 1992. Menetap di Kota Padang, Kec. Kuranji, Kel. Lubuk Lintah, RW/RT 01/03. Dapat dihubungi melalui HP: 085766231429. Email: bulan.hijau@ymail.com. 
Setelah menamatkan Sekolah Dasar di kampung halamannya, pecinta warna hijau ini harus berpisah dengan
orang tua karena keinginannya menimba ilmu di Pondok Pesantren Modren Diniyyah (Diniyyah Boarding School-red). Hidup di lingkungan Pesantren membuatnya mandiri dan selalu mengisi waktu luangnya dengan membaca. Tabungan kosa katanya semakin  bertambah, hingga akhirnya ia menuangkannya ke dalam bait tulisan. Beberapa puisinya menjadi jawara ketika perlombaan di tengah santriwati pesantren maupun eks-pesantren. Selain itu ia juga sering menjuarai lomba baca puisi dan  lomba pidato tiga bahasa (Indonesia, Arab dan Inggris).
Menyambung estafet pembelajarannya ke MAN 1 MODEL BUKITTINGGI, Meta-begitu dia akrab disapa-malah membelot dari ‘dunia bertabur kata’ menjadi atlet bela diri Pencak Silat. Atlet Laga kelas F Putri dengan tinggi 167 cm ini menjuarai beberapa pertandingan pencak silat baik dalam kota maupun ke luar provinsi.
Namun, ketika memasuki bangku perkuliahan, hatinya mulai tergelitik dengan dakwah bil qalam yang diusung bersama oleh Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah Sumatera Barat. Semenjak itulah, ia mengulang masa silamnya yang sempat ‘membelot’. Kini, selain mengejar cita-citanya menjadi Profesor Muda Ekonomi Islam, ia beserta rekan-rekannya (FLPer’s Sumbar) tengah berlomba untuk membuat perubahan ke arah yang lebih baik dimulai dengan hal-hal kecil. Dimulai dengan pena kecil yang akan membawa perubahan besar, Insyaallah.
Karya-karya telah dipublikasikan di Singgalang, Haluan, Suara Kampus, Portal Suara Kampus, Tabloid Qalam  dan Tabloid Salam Dharmasraya. Beberapa kali memenangkan lomba kepenulisan cerpen dan olimpiade karya tulis ilmiah. Karya-karyanya bergabung dalam antologi cerpen lokal maupun nasional, seperti antologi Potongan Tangan di Kursi Tuhan, Negeri Kesuda, Air Mata Sunyi. Sedangkan novel perdananya berjudul Bulan Hijau di Turian, akan segera terbit (Diva Press, 2011).
Dalam keorganisasian ia terlibat dalam; Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Syariah, sekarang diamanahkan menjadi Ketua Umum (2011-2012).  Selain itu Meta juga merupakan seorang reporter Fossei Nasional di bawah naungan Depnas II. Aktif juga di Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Sumatera Barat, diamanahkan sebagai Koordinator Humas dan Danus  FLP Sumbar (2010-2012). Dia juga diamanahkan sebagai redaktur sastra Tabloid Qalam. Tercatat sebagai anggota Syariah Banking Club (SBC) dan Kajian Studi Ekonomi Islam (KSEI).

0 Puisi; Aku

Label:

Aku wanita dingin yang menggebu.

Tertawa di semayam hujan.
Menangis di kerontang bulan.

Aku wanita riang yang didekam....
Mengalir bersama air, tumbuh bersama ilalang.

Aku bertahta di dalam pasungan.

5 Cerpen; Nisan Palimo

Jumat, 19 Agustus 2011 Label:


Cerpen oleh : Williya Meta
Cerpen ini bergabung di Antologi 25 CERPENIS SUMBAR, Potongan Tangan Di Kursi Tuhan
Nisan Palimo
Manir keluar-masuk pintu dengan setumpuk kain kering di pelukannya. Kain itu ia letakkan di atas kursi yang telah bertahun-tahun mengabdi di gubuknya. Kursi nan telah pudar warnanya, tak mengkilat dan telah reot pula. Di samping gundukan kain yang baru saja diletakkan itu, duduk Palimo dengan sebatang rokok murah yang sedang dihisapnya. Dari ritme hisapannya yang dalam, mafhumlah kita bahwa sejatinya ia tak sedang menikmati rokok itu, namun jauh dari tatapan nanar Palimo ke lantai gubuk, tersimpan akar masalah yang sedang menggerogoti fikirannya.

3 Cerpen; Ending

Label:


Cerpen oleh: Williya Meta
Cerpen ini belum pernah dipublikasi

ENDING

Dia masih belum percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Bangunan di sekitarnya tampak hampir sama. Deretan rumah semi permanen yang rata-rata berwarna biru muda dengan atasan kayu nyaris lapuk. Namun ada juga yang berwarna hijau dan abu-abu seperti dua rumah di seberang jalan kecil, tepat di depan teras rumah tempat sekarang ia duduk. Udara panas kota Padang terasa semakin gersang dengan pemandangan di luar teras rumah. Para wanita yang lalu-lalang rata-rata pakai sepatu hak tinggi, rok mini, dan sepotong baju kaos ketat yang membuat tubuh mereka tampak semakin sexi. Angin-angin nakal menyapu wajah mereka, rambut yang tergerai semakin indah dipermainkan angin.

0 Janji untuk Mak Janewa

Label:

Cerpen oleh: Williya Meta
Terbit di Tabloid Qalam edisi Desember

Janji untuk Mak Janewa
Mak Janewa menurunkan tangannya dengan gontai dari telinga kanan ke paha gigilnya. Matanya mengerjap-ngerjap. Sejurus kemudian, cairan bening menganak di sudut matanya. Setetes. Dua tetes. Menjelang tiga tetes, Mak Janewa dengan cepat menghapusnya. Walau yang ada, cairan itu makin melebar, berserakan di seputar matanya. Mak Janewa berusaha menguatkan hati.
 Saogo segera menghampiri Mak Janewa. Diambilnya telepon genggam dari tangan kanan Mak Janewa yang masih terletak di paha gigil beliau. Telepon genggam itu ia pindahkan ke meja ruang tamu yang masih bisa dijangkaunya. Saogo menghapus serpih-serpih air mata yang masih berserakan di sudut mata Mak Janewa, hingga benar-benar kering.

10 Cerpen; Suami dari Surga

Senin, 06 Juni 2011 Label:


Akhir 2009, aku mulai menekuni dunia bertabur kata.
Awalnya, aku menulis Artikel, opini, dan nonfiksi lainnya.
Namun, setelah kubaca-baca lagi semua tulisanku, aku mulai sadar bahwa tulisanku lebih cenderung seperti cerita.

0 Cerpen; Lebaran Haji di Pulau Pagai

Label:


Terbit di Harian Singgalang edisi Minggu, 12 November 2010
Cerpen oleh; Williya Meta


Lebaran Haji di Pulau Pagai

Sudah lebih dua minggu gempa dan tsunami singgah di Pulau Pagai, Kep. Mentawai.  Menyapu harapan, asa, cita dan cinta. Juga pada Syarif. Bocah kecil yang kini hanya bisa diam jika dalam pelukan Surtini. Jika tidak, jeritannya akan menggema di seluruh pelosok tenda pengungsian. Jeritan yang membaur dengan tangisan pilu menyayat batin siapa saja yang  mendengarkannya.

6 Cerita Kampung Gadis Pandir

Rabu, 01 Juni 2011 Label:


(Salah Satu Cerpen yang Lolos dalam Antologi cerpen "Air Mata Sunyi" FLP Sumbar 2011)
Cerpen oleh: Williya Meta

Cerita Kampung Gadis Pandir 

Kawan, jika engkau punya waktu senggang lagi luang, maka bertandanglah ke kampung kami barang sepetang. Kampung kami yang sudah masyhur dengan nama ‘Surga Para Layang’ tak hanya akan memanjakan engkau dengan pesona keindahan Danau Maninjau ditilik dari ketinggian Puncak Lawang. Memang kebanyakan orang yang datang berniat untuk mengudara dengan parasut layang dari ketinggian, melayang, lantas mendarat di tingginya ilalang (biasanya, tatkala pelayang mendarat, pasti terjerengkang).  Namun lebih dari itu, kampung kami  bisa kawan jadikan acuan, untuk mendapatkan ide menggudang. Tidak percayakah, Kawan? Tenang! Sebentar lagi akan kubuktikan bahwa kabar dariku bukan bualan.

 
Williya Meta © 2010 | Blog Dirancang Oleh www.pandani.co.cc | web Design 07 Juni 2011