Selamat Datang di blog Williya Meta "Bidadari Bulan Hijau"
.
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

2 Cerpen; Perahu Tulis

Rabu, 14 September 2011 Label:

Cerpen ini terpilih menjadi Pemenang Utama di
SAYEMBARA PENULISAN CERPEN REMAJA TINGKAT PROVINSI SUMATRA BARAT TAHUN 2011 
(diselenggarakan oleh Balai Bahasa Padang)


PERAHU TULIS
oleh: Williya Meta

“Ke mana Saogo, Ina[1]? Mengapa sejak tadi tak tampak batang hidungnya?” Tanya Sababalat pada ibunya.
“Aih, tak tahukah kau perangai baru anak kau itu? Jam segini tak usah pula kau tanya padaku keberadaannya. Kau naiklah ke teras atas. Di sana kau akan menemuinya” jawab Ina Bani santai.
Sababalat terheran mendengar jawaban ibunya. “Memangnya apa yang dilakukannya di sana?” Tanya Sababalat penasaran. Ia menghentikan kunyahan nasi dan gerakan teratur tangannya dari piring ke mulut.
“Kalau siang begini, dia belajar dengan Pitoha, anak Pak Lurah itu. Kalau malam, saat kau melaut, dia belajar sendiri mengulang pelajaran baru yang didapatnya dari Pitoha,” jelas wanita tua itu.

5 Cerpen; Nisan Palimo

Jumat, 19 Agustus 2011 Label:


Cerpen oleh : Williya Meta
Cerpen ini bergabung di Antologi 25 CERPENIS SUMBAR, Potongan Tangan Di Kursi Tuhan
Nisan Palimo
Manir keluar-masuk pintu dengan setumpuk kain kering di pelukannya. Kain itu ia letakkan di atas kursi yang telah bertahun-tahun mengabdi di gubuknya. Kursi nan telah pudar warnanya, tak mengkilat dan telah reot pula. Di samping gundukan kain yang baru saja diletakkan itu, duduk Palimo dengan sebatang rokok murah yang sedang dihisapnya. Dari ritme hisapannya yang dalam, mafhumlah kita bahwa sejatinya ia tak sedang menikmati rokok itu, namun jauh dari tatapan nanar Palimo ke lantai gubuk, tersimpan akar masalah yang sedang menggerogoti fikirannya.

3 Cerpen; Ending

Label:


Cerpen oleh: Williya Meta
Cerpen ini belum pernah dipublikasi

ENDING

Dia masih belum percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Bangunan di sekitarnya tampak hampir sama. Deretan rumah semi permanen yang rata-rata berwarna biru muda dengan atasan kayu nyaris lapuk. Namun ada juga yang berwarna hijau dan abu-abu seperti dua rumah di seberang jalan kecil, tepat di depan teras rumah tempat sekarang ia duduk. Udara panas kota Padang terasa semakin gersang dengan pemandangan di luar teras rumah. Para wanita yang lalu-lalang rata-rata pakai sepatu hak tinggi, rok mini, dan sepotong baju kaos ketat yang membuat tubuh mereka tampak semakin sexi. Angin-angin nakal menyapu wajah mereka, rambut yang tergerai semakin indah dipermainkan angin.

0 Janji untuk Mak Janewa

Label:

Cerpen oleh: Williya Meta
Terbit di Tabloid Qalam edisi Desember

Janji untuk Mak Janewa
Mak Janewa menurunkan tangannya dengan gontai dari telinga kanan ke paha gigilnya. Matanya mengerjap-ngerjap. Sejurus kemudian, cairan bening menganak di sudut matanya. Setetes. Dua tetes. Menjelang tiga tetes, Mak Janewa dengan cepat menghapusnya. Walau yang ada, cairan itu makin melebar, berserakan di seputar matanya. Mak Janewa berusaha menguatkan hati.
 Saogo segera menghampiri Mak Janewa. Diambilnya telepon genggam dari tangan kanan Mak Janewa yang masih terletak di paha gigil beliau. Telepon genggam itu ia pindahkan ke meja ruang tamu yang masih bisa dijangkaunya. Saogo menghapus serpih-serpih air mata yang masih berserakan di sudut mata Mak Janewa, hingga benar-benar kering.

10 Cerpen; Suami dari Surga

Senin, 06 Juni 2011 Label:


Akhir 2009, aku mulai menekuni dunia bertabur kata.
Awalnya, aku menulis Artikel, opini, dan nonfiksi lainnya.
Namun, setelah kubaca-baca lagi semua tulisanku, aku mulai sadar bahwa tulisanku lebih cenderung seperti cerita.

0 Cerpen; Lebaran Haji di Pulau Pagai

Label:


Terbit di Harian Singgalang edisi Minggu, 12 November 2010
Cerpen oleh; Williya Meta


Lebaran Haji di Pulau Pagai

Sudah lebih dua minggu gempa dan tsunami singgah di Pulau Pagai, Kep. Mentawai.  Menyapu harapan, asa, cita dan cinta. Juga pada Syarif. Bocah kecil yang kini hanya bisa diam jika dalam pelukan Surtini. Jika tidak, jeritannya akan menggema di seluruh pelosok tenda pengungsian. Jeritan yang membaur dengan tangisan pilu menyayat batin siapa saja yang  mendengarkannya.

6 Cerita Kampung Gadis Pandir

Rabu, 01 Juni 2011 Label:


(Salah Satu Cerpen yang Lolos dalam Antologi cerpen "Air Mata Sunyi" FLP Sumbar 2011)
Cerpen oleh: Williya Meta

Cerita Kampung Gadis Pandir 

Kawan, jika engkau punya waktu senggang lagi luang, maka bertandanglah ke kampung kami barang sepetang. Kampung kami yang sudah masyhur dengan nama ‘Surga Para Layang’ tak hanya akan memanjakan engkau dengan pesona keindahan Danau Maninjau ditilik dari ketinggian Puncak Lawang. Memang kebanyakan orang yang datang berniat untuk mengudara dengan parasut layang dari ketinggian, melayang, lantas mendarat di tingginya ilalang (biasanya, tatkala pelayang mendarat, pasti terjerengkang).  Namun lebih dari itu, kampung kami  bisa kawan jadikan acuan, untuk mendapatkan ide menggudang. Tidak percayakah, Kawan? Tenang! Sebentar lagi akan kubuktikan bahwa kabar dariku bukan bualan.

0 Cerpen; ALIM (Alternatif Masa Depan)

Selasa, 31 Mei 2011 Label:

Nominasi 2 Lomba Cerpen Tingkat Mahasiswa se-Indonesia
Cerpen oleh: Williya Meta


ALIM
(ALTERNATIF MASA DEPAN)

Mak Tiun mondar-mandir tak karuan. Napasnya menjadi sesak, jantungnya berdetak kencang. Mulutnya komat-kamit memilah-milah kata yang tepat untuk diutarakannya sebentar lagi. Sesekali diliriknya Alim yang sedang belajar di meja rotan reot di sudut ruangan. Cahaya Cimporong[1] yang meliuk-liuk diterpa angin malam membuat pantulan bayangan Mak Tiun ke dinding mengecil-besar. Alim merasa terganggu dengan bayangan itu. Ia menoleh ke belakang, lalu pertanya sopan.

0 Cerpen; Surat Cinta untuk Bunda

Label:



*Cerpen ini meraih Juara II Lomba MSCB 2009 di IAIN Imamm Bonjol Padang dalam rangka ‘MEMPERINGATI HARI IBU’


*Juga telah dimuat di Harian Singgalang edisi Minggu, 26 Desember 2010





Cerpen


Oleh: Williya Meta





Surat Cinta untuk Bunda








Padang, Desember 2009


Assalamualaikum  Bunda....


            Ghumaisya yakin, suatu hari Bunda pasti akan bongkar semua isi kamarku dan merapikannya. Mungkin menyatukan semua barang-barang pribadiku ke dalam satu kardus atau membingkai foto terakhirku saat mendaki Merapi. Dan pasti Bunda juga akan menggulung kasurku seperti kebiasan Bunda saat aku tidak di rumah, karena memang kasur itu tak akan lagi kutempati. Tak akan pernah lagi! Itulah sebabnya sengaja kuletakkan surat ini di bawah kasur karena aku yakin Bunda pasti akan menemukannya juga. Ingin sekali rasanya kuberikan surat ini langsung ke tangan Bunda, tapi aku tak sanggup jika harus melihat Bunda menangis di hadapanku lagi. Sudah cukup Bunda menangis karena ulahku, aku tak ingin melihat air mata Bunda.  Setidaknya, tidak di hadapanku!



            Bunda sayang....


            Tak perlu lagi rasanya kuungkit semua derai cinta yang telah tercurah untukku sejak menghidup udara dunia ini. Bahkan,

0 Cerpen; Epilog Sebuah Perjuangan

Label:

Terbit di: Suara Kampus
Cerpen oleh: Williya Meta

Epilog Sebuah Perjuangan

SMA 01 Nusantara, April 2010

Hiruk pikuk di sekolah siang ini, sangat memekakkan telinga. Teman-temanku bersorak-sorai kegirangan setelah membuka amplop putih yang disalamkan langsung oleh Kepala Sekolah pada mereka. Dalam amplop itu terdapat secarik kertas pengumuman kelulusan pasca Ujian Nasional (UN). Konon, 100% siswa-siswi SMA 01 Nusantara lulus dengan menyandang nilai tertinggi di Sumatra Barat. “Wow... Prestasi yang sangat gemilang.” Setidaknya begitulah decak kagum bagi orang yang mengetahui prestasi sekolah ini.
Riuh sekali. Gelak tawa menggema di seluruh pelosok sekolah. Ada juga yang berlari-lari seraya membentangkan tangannya lebar-lebar sambil berteriak kegirangan. Sesekali rentangan tangan itu diubah bentuknya, kadang berat ke sebelah kanan, kadang sebelah kiri. Teriakan pun tak beraturan ritmenya. Bahkan melodi kata yang dilontarkan, bercampur baur.
Amak... Den lulus ah...”

 
Williya Meta © 2010 | Blog Dirancang Oleh www.pandani.co.cc | web Design 07 Juni 2011