Selamat Datang di blog Williya Meta "Bidadari Bulan Hijau"
.

10 Cerpen; Suami dari Surga

Senin, 06 Juni 2011 Label:


Akhir 2009, aku mulai menekuni dunia bertabur kata.
Awalnya, aku menulis Artikel, opini, dan nonfiksi lainnya.
Namun, setelah kubaca-baca lagi semua tulisanku, aku mulai sadar bahwa tulisanku lebih cenderung seperti cerita.

0 Cerpen; Lebaran Haji di Pulau Pagai

Label:


Terbit di Harian Singgalang edisi Minggu, 12 November 2010
Cerpen oleh; Williya Meta


Lebaran Haji di Pulau Pagai

Sudah lebih dua minggu gempa dan tsunami singgah di Pulau Pagai, Kep. Mentawai.  Menyapu harapan, asa, cita dan cinta. Juga pada Syarif. Bocah kecil yang kini hanya bisa diam jika dalam pelukan Surtini. Jika tidak, jeritannya akan menggema di seluruh pelosok tenda pengungsian. Jeritan yang membaur dengan tangisan pilu menyayat batin siapa saja yang  mendengarkannya.

6 Cerita Kampung Gadis Pandir

Rabu, 01 Juni 2011 Label:


(Salah Satu Cerpen yang Lolos dalam Antologi cerpen "Air Mata Sunyi" FLP Sumbar 2011)
Cerpen oleh: Williya Meta

Cerita Kampung Gadis Pandir 

Kawan, jika engkau punya waktu senggang lagi luang, maka bertandanglah ke kampung kami barang sepetang. Kampung kami yang sudah masyhur dengan nama ‘Surga Para Layang’ tak hanya akan memanjakan engkau dengan pesona keindahan Danau Maninjau ditilik dari ketinggian Puncak Lawang. Memang kebanyakan orang yang datang berniat untuk mengudara dengan parasut layang dari ketinggian, melayang, lantas mendarat di tingginya ilalang (biasanya, tatkala pelayang mendarat, pasti terjerengkang).  Namun lebih dari itu, kampung kami  bisa kawan jadikan acuan, untuk mendapatkan ide menggudang. Tidak percayakah, Kawan? Tenang! Sebentar lagi akan kubuktikan bahwa kabar dariku bukan bualan.

0 Cerpen; ALIM (Alternatif Masa Depan)

Selasa, 31 Mei 2011 Label:

Nominasi 2 Lomba Cerpen Tingkat Mahasiswa se-Indonesia
Cerpen oleh: Williya Meta


ALIM
(ALTERNATIF MASA DEPAN)

Mak Tiun mondar-mandir tak karuan. Napasnya menjadi sesak, jantungnya berdetak kencang. Mulutnya komat-kamit memilah-milah kata yang tepat untuk diutarakannya sebentar lagi. Sesekali diliriknya Alim yang sedang belajar di meja rotan reot di sudut ruangan. Cahaya Cimporong[1] yang meliuk-liuk diterpa angin malam membuat pantulan bayangan Mak Tiun ke dinding mengecil-besar. Alim merasa terganggu dengan bayangan itu. Ia menoleh ke belakang, lalu pertanya sopan.

0 Cerpen; Surat Cinta untuk Bunda

Label:



*Cerpen ini meraih Juara II Lomba MSCB 2009 di IAIN Imamm Bonjol Padang dalam rangka ‘MEMPERINGATI HARI IBU’


*Juga telah dimuat di Harian Singgalang edisi Minggu, 26 Desember 2010





Cerpen


Oleh: Williya Meta





Surat Cinta untuk Bunda








Padang, Desember 2009


Assalamualaikum  Bunda....


            Ghumaisya yakin, suatu hari Bunda pasti akan bongkar semua isi kamarku dan merapikannya. Mungkin menyatukan semua barang-barang pribadiku ke dalam satu kardus atau membingkai foto terakhirku saat mendaki Merapi. Dan pasti Bunda juga akan menggulung kasurku seperti kebiasan Bunda saat aku tidak di rumah, karena memang kasur itu tak akan lagi kutempati. Tak akan pernah lagi! Itulah sebabnya sengaja kuletakkan surat ini di bawah kasur karena aku yakin Bunda pasti akan menemukannya juga. Ingin sekali rasanya kuberikan surat ini langsung ke tangan Bunda, tapi aku tak sanggup jika harus melihat Bunda menangis di hadapanku lagi. Sudah cukup Bunda menangis karena ulahku, aku tak ingin melihat air mata Bunda.  Setidaknya, tidak di hadapanku!



            Bunda sayang....


            Tak perlu lagi rasanya kuungkit semua derai cinta yang telah tercurah untukku sejak menghidup udara dunia ini. Bahkan,

0 Cerpen; Epilog Sebuah Perjuangan

Label:

Terbit di: Suara Kampus
Cerpen oleh: Williya Meta

Epilog Sebuah Perjuangan

SMA 01 Nusantara, April 2010

Hiruk pikuk di sekolah siang ini, sangat memekakkan telinga. Teman-temanku bersorak-sorai kegirangan setelah membuka amplop putih yang disalamkan langsung oleh Kepala Sekolah pada mereka. Dalam amplop itu terdapat secarik kertas pengumuman kelulusan pasca Ujian Nasional (UN). Konon, 100% siswa-siswi SMA 01 Nusantara lulus dengan menyandang nilai tertinggi di Sumatra Barat. “Wow... Prestasi yang sangat gemilang.” Setidaknya begitulah decak kagum bagi orang yang mengetahui prestasi sekolah ini.
Riuh sekali. Gelak tawa menggema di seluruh pelosok sekolah. Ada juga yang berlari-lari seraya membentangkan tangannya lebar-lebar sambil berteriak kegirangan. Sesekali rentangan tangan itu diubah bentuknya, kadang berat ke sebelah kanan, kadang sebelah kiri. Teriakan pun tak beraturan ritmenya. Bahkan melodi kata yang dilontarkan, bercampur baur.
Amak... Den lulus ah...”

 
Williya Meta © 2010 | Blog Dirancang Oleh www.pandani.co.cc | web Design 07 Juni 2011